Jumat

DAMKAR-PB Sektor Puri Kembangan

Gencar Lakukan Sosialisasi Ke Masyarakat

Secara teknis, mengimbangi kekuatan “api kebakaran” untuk kemudian memenangi pertempurannya, sudah bukan persoalan sulit bagi satuan Pemadam Kebakaran & Penanggulangan Bencana.

Dalam arti, teknologi atau lebih spesifik lagi yaitu pengetahuan tentang proteksi kebakaran (Fire Protection/Fire Engineering) telah menyediakan jawaban tentang bagaimana dan apa yang harus diperbuat untuk mengimbangi dan memenangkan pertempuran melawan api kebakaran.

Manusia, faktor utama resiko kebakaran.Yang menjadi masalah atau menjadi salah satu faktor risiko kebakaran (fire risk) utama adalah justru manusia itu sendiri karena hampir dari separuh bencana kebakaran seluruhnya disebabkan oleh ulah manusia (man made disaster).

Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jakarta Barat mencatat sepanjang bulan Januari hingga September 2010, telah terjadi lebih dari 120 kasus kebakaran.

Data sementara, wilayah yang sering terjadi kebakaran, Kecamatan Kembangan dengan 21 kasus, Cengkareng dengan 21 kasus, sementara di Tambora telah terjadi 21 kebakaran. Musibah kebakaran paling rendah terjadi di Palmerah dengan lima kasus kebakaran, sisanya wilayah lain di kawasan Jakarta Barat.

Dari sekitar 120 kali musibah kebakaran di Jakarta Barat, di antaranya disebabkan hubungan arus pendek listrik sebanyak 80 kali, kompor gas 15 kali, rokok 5 kali, lampu 2 kali, dan lain-lain sebanyak 18 kali. Korban jiwa akibat kebakaran sepanjang Januari - September 2010, sebanyak 6 orang dan luka-luka sekitar 16 orang. Total kerugian mencapai sekitar Rp 27,98 miliar.

Dari beberapa penyebab bencana kebakaran di atas serta bencana lainnya, maka dirasa perlu untuk meningkatkan koordinasi, baik bagi semua elemen masyarakat, instansi terkait (Kepolisian, Pamong Praja, Dishub, PLN, KODIM, Kecamatan, Kelurahan, RT, RW), dan media sebagai sumber berita.

Pentingnya Kerjasama Untuk Sosialisasi
Usaha yang dilakukan pihak Pemadam Kebakaran & Penanggulangan Bencana (Damkar-PB), khususnya pada sektor kecamatan untuk menekan jumlah kasus kebakaran dan bencana lainnya adalah dengan mengadakan sosialisasi pencegahan kebakaran dan bencana akibat kelalaian manusia di tingkat kecamatan.

Seperti aktivitas yang terlihat pada Damkar-PB sektor VI Kembangan Jakarta Barat dengan lokasi persis berada di depan kantor Walikota Jakarta Barat. Atas partisipasi masyarakat dan peran serta instansi tingkat kecamatan (RT, RW, kelurahan, dll), beberapa bulan belakangan ini mereka sedang gencar melakukan sosialisasi dalam berbagai bentuk.

“Paket sosialisasi seperti rencana operasi untuk simulasi persiapan pemadam kebakaran yang meliputi pengenalan peralatan, jenis pencegahan, hingga info penyuluhan untuk penanggulangan cepat kebakaran sudah sering dilakukan oleh Dinas Damkar-PB di seluruh wilayah,” jelas Kasektor Damkar-PB Kembangan Jakarta Barat, Suparno.

Untuk akhir bulan Oktober ini saja, sekitar 7 RW (melalui kelurahan) mencakup Kelurahan Joglo (RW 03) dan Kembangan Utara (dari RW 01-06) yang sudah mengajukan surat izin untuk mengadakan simulasi dan penyuluhan tentang penanggulangan kebakaran.

Manfaat dari sosialisasi yang dilakukan Damkar-PB, khususnya sektor Kembangan, di antaranya memperkenalkan satuan Damkar-PB sebagai instansi pemerintah yang tidak memungut biaya, karena masih banyak orang beranggapan takut terkena biaya jika menelepon dinas Damkar-PB.

Selain itu, juga bermanfaat untuk memperlihatkan gambaran langsung proses penanggulangan kebakaran dan bencana mulai dari penerimaan informasi yang akurat, persiapan menuju lokasi, proses penanganan langsung saat di lokasi (kebakaran dan bencana), dan perkenalan peralatan tempur untuk hadapi kebakaran serta bencana.
Perlu diketahui, Damkar-PB Sektor Kembangan memiliki dua pos yaitu pos Puri Sakti dengan 12 personil dan Pos Joglo dengan 11 personil. Sedangkan di sektor Kembangan sendiri terdapat 27 orang personil.

Sistem dan struktur kerja Damkar-PB Sektor Kembangan dibagi ke dalam 3 shift/pleton (1 shift sama dengan 1 pleton). Untuk 1 pletonnya terdiri dari 4 regu (1 regu berjumlah 4 orang) yang dipimpin langsung oleh Komandan Regu (Danru). Sedangkan untuk Danru dikepalai oleh Komandan Pleton (Danton) dan di atas Danton ada Kepala Sektor atau sering disebut Kasektor.

Peralatan dan fasilitas yang dimiliki Damkar-PB sektor Kembangan di antaranya : 1 unit mobil pompa Quick Respon dan 1 mobil Large diametre reel (1 satu pasang), 1 unit mobil pompa 2000 liter, 1 unit mobil operasional sektor, 2 perahu karet dan motor tempel, 60 fire jacket dan trosser, 4 helm kebakaran, 2 buah baju tahan panas, dan alat bantu pernapasan.

“Pantang Pulang Sebelum Padam” walaupun nyawa taruhannya, bukanlah menjadi semboyan kosong belaka. Bagi para petugas Damkar-PB, khususnya sektor Kembangan, mereka meyakini bahwa merupakan hal yang mulia apabila gugur dalam bertugas. Niatan untuk menolong masyarakat yang tertimpa musibah sudah tertanam sejak sirine/lonceng kebakaran dibunyikan.

Minimalisir Resiko Bencana Kebakaran
Bencana kebakaran, masih banyak yang memandangnya bukan sebagai sebuah resiko yang dapat diminimalisir, melainkan sebagai musibah.

Juga, masih kuat anggapan bahwa biaya untuk proteksi terhadap bahaya kebakaran bukan biaya yang tergolong sebagai biaya investasi yang dapat dikembalikan dalam waktu relatif cepat, atau sikap menggampangkan bahwa soal bencana kebakaran adalah soal nanti.

Hal tersebut berkonsekuensi kepada semakin longgarnya penerimaan terhadap resiko kebakaran, yang berlangsung tanpa mendapat perhatian dari publik.

Keterlibatan pemangku kepentingan/stakeholders dalam konteks proteksi dan sistem ketahanan kebakaran kota, faktor manusia, pengambil kebijakan (khususnya), instansi perangkat pelaksana kota terkait, penduduk dan pengelola bangunan, secara negatif merupakan beberapa faktor resiko yang berhubungan erat dengan kerentanan kota dari bahaya kebakaran.

Dapat disimpulkan bahwa kerentanan kebakaran kota akan meningkat apabila kota dan pemangku kepentingannya tidak berbuat banyak untuk hal proteksi dan sistem ketahanan kebakaran.

Jika ruang kota ingin dijadikan sebagai ruang yang menyejahterakan penduduknya, maka kota dan pemangku kepentingannya tanpa terkecuali, harus mengupayakan proteksi dan sistem ketahanan terhadap risiko bencana kota yang sewaktu-waktu dapat terjadi secara konsisten dan berjangka panjang.

Instansi perangkat kota yang menangani proteksi dan sistem pertahanan kebakaran, perlu kembangkan beberapa sistem atau rencana baru yang erat kaitannya dengan pencegahan dan pemadaman kebakaran. Rencana tersebut harus spesifik, dengan tujuan yang jelas, dilaksanakan dalam waktu tidak terlalu lama, dan sepenuhnya direncanakan oleh pihak internal.

Beberapa rencana tersebut antara lain : rencana program pelatihan, penggantian apparatus, rencana revisi tanggap pertama dan lain-lain. Perencanaan instansi kebakaran tersebut harus mempertimbangkan perencanaan instansi lain misalnya perencanaan tata-ruang, perencanaan oleh perusahaan air, penegakkan peraturan bangunan dan sebagainya.