Jumat

Natal Di Mata Seseorang

Seseorang ditanya mengenai pendapatnya tentang Natal yang dirayakan setiap tahunnya, malah menjawab biasa saja. Padahal, dia cukup rajin beribadah setiap Minggu dan jauh dari berbuat yang dilarang agama.


Meskipun dia tetap merayakannya, tapi sepertinya pendapat dia berbalik arah dengan ketekunannya dalam beragama. Setelah berbicara lebih jauh, dia baru mengatakan alasannya. Menurutnya, mengapa dia mengatakan perayaan Natal itu biasa saja karena dia merasa prihatin.

Selama ini, menurut kaca matanya, perayaan Natal di beberapa tempat hanya sebagai ajang hiburan belaka. Hari kelahiran Yesus Kristus itu bukan diisi dengan khotbah-khotbah agamawi yang sakral dan menyentuh, tapi malah menjadi ajang “panggil artis”.

Lebih menyedihkan lagi, masih menurutnya, artis-artis dimaksud bukan menyanyikan lagu-lagu yang berhubungan dengan Natal, melainkan lagu-lagu populer.

Makanya, orang tadi, lebih memilih untuk merenung. Mengintropeksi dirinya sendiri, memikirkan apa yang telah dilakukannnya tahun ini dan mulai merencanakan apa yang akan dilakukan tahun depan. Melihat kesalahannnya dan mencoba untuk tidak melakukan lagi di lain waktu.

Keprihatinannya masih berlanjut ketika dia melihat gaya hidup orang-orang di sekelilingnya. Merayakan Natal, banyak yang cendrung berfoya-foya dengan pesta ria dan mengikuti arus konsumerisme.

Dalam pikiran dia, hal itu malah akan menjadi “batu sandungan” buat orang lain. Memaksa orang mengikuti cara hidup manusia lainnya yang belum tentu sama. Pada malam Natal yag kudus, ada baiknya banyak berdoa dan bersiap menyambut Natal di pagi harinya.

Selamat Natal dan Tahun Baru 2007 !