Kamis

Dewi AnggRAENI Sudarwati DJOEMENA SIMANJUNTAK

Wanita Dalam Kepemimpinan

Mulai Mary Eugenia Charles dari Republik Dominika yang menduduki posisi Perdana Menteri tidak lama setelah negaranya mendapat kemerdekaan dari Inggris tahun 1978, sampai Megawati yang menjabat sebagai presiden Indonesia tahun 2001 - 2004 lalu, mengindikasikan bahwa wanita memang bisa jadi pemimpin.

Meski banyak skeptis gender yang meragukan kapabilitas wanita dalam memimpin, tapi sejarah berkata lain. Wanita justru sekarang ini sedang menjadi sorotan publik dan semakin sering dilirik menjadi pemimpin karena karakteristiknya.

Beberapa penelitian psikologi mengatakan bahwa wanita dalam memimpin sering kali berorientasi pada para pendukungnya, prinsip, dan perubahan. Mereka sering memberdayakan pendukung nya dengan memberi kesempatan untuk menyatakan pendapat dan memberi masukan. Mereka juga melakukan berbagai upaya untuk pengembangan diri. Selain itu, para wanita pemimpin lebih banyak yang bertindak sebagai mentor dari pada sebagai ”bos”.

Lebih jauh lagi, wanita pun dinilai memiliki kelebihan dalam kemampuan berkomunikasi. Dalam menjalankan kepemimpinannya, wanita menggunakan kemampuan bahasa mereka untuk berkomunikasi dan memilih dengan hati-hati kata-kata yang mereka ucapkan.

Kata-kata, mereka jadikan senjata ampuh untuk menyampaikan pendapat, memberi motivasi dan dorongan bagi anak buah. Mereka sadar bahwa kata-kata yang tepat memiliki kekuatan yang dahsyat untuk menggerakkan orang lain.
Bukan tanpa sebab uraian di atas lebih dulu disampaikan. Itu semua karena memang dalam artikel ini kita akan menyoroti seorang Dewi Anggraeni Sudarwati Djoemena Simanjuntak atau akrab dipanggil RAENI, yang baru saja menjadi Redaktur Pelaksana Majalah AdInfo.

Integritasnya dalam memimpin tidak perlu diragukan lagi. Dengan melihat sosoknya saja, kita akan tahu bahwa wanita kelahiran Bandung, 1971 ini mampu memimpin divisi redaksi AdInfo, dapat dipercaya, dan diandalkan dalam segala kegiatan redaksional.
Dalam keseharian dan bekerja, optimisme selalu terpancar dari wajahnya. Tidak ada kata tidak bisa sebelum segala sesuatunya dilakukan lebih dulu dan dicoba.

Menurutnya, kita tak akan pernah tahu hasil dan jawabannya sebelum semua dicoba.
Prinsip yang dilakoni tersebut sejalan dengan keberaniannya dalam menempuh resiko. Buat dia, pemimpin memang harus berani mengambil resiko dan mengambil keuntungan dari resiko tersebut. Sekaligus mempertahankan prinsip yang menurutnya memang benar. Layaknya beberapa pemimpin wanita dunia seperti, Benazir Bhutto dan Bunda Teressa yang tidak lekang memimpin perjuangan walau banyak tekanan dan tindak kekerasan.

Katalis
Dunia jurnalistik buat Raeny sendiri bukanlah bidang pekerjaan yang asing. Di samping kerap menulis berbagai artikel yang bersifat umum, dia juga sering bergulat dengan hobi fotografi.

Makanya, ketika ditunjuk untuk menempati posisi redaktur pelaksana di Majalah AdInfo, dia merasa senang sekali. Menurutnya, dibanding media lain, AdInfo memiliki ciri khas tersendiri dengan berita-beritanya yang berskala komunitas. Karakteristik inilah yang nantinya akan lebih spesifik diterapkan dalam artikel-artikel Majalah AdInfo.

Sebagai seorang pemerhati jurnalistik dan komunikasi, cakrawala wawasan Raeny juga dinilai cukup luas. Berbagai topik-topik pemberitaan dalam dan luar negeri terkini pun terus diikuti. Hal tersebut tentunya sangat berguna dalam mendukung segala kegiatan kewartawanannya.

Last but not least, dengan kemampuan komunikasinya yang baik, Raeny pun cepat akrab dengan orang lain. Sehingga dirinya mampu menggali berbagai informasi dari nara sumber untuk kepentingan berbagai penulisan artikel-artikelnya. Juga berguna sebagai katalis dalam menjalin kerjasama, antusiame, dan memberi semangat kerja wartawan lainnya.

Dengan berbagai potensi dan kemampuannya, tidak salah bila ada harapan kalau Majalah AdInfo akan melangkah ke arah lebih baik. Pun tentunya akan lebih bermanfaat buat pembaca komunitas. Semoga.