Sebelum kemerdekaan, pejuang bangsa berusaha keras melepas belenggu penjajahan. Hidup dan mati mereka pertahankan untuk bangsa ini. Beberapa peristiwa heroik yang diceritakan guru di sekolah pun masih terngiang di telinga kita. Mengingatkan akan jasa pahlawan bangsa yang telah memerdekakan Indonesia.
Setelah merdeka, kita pun sering memperingatinya setiap tahun. Memasang bendera merah-putih di sepanjang jalan, mengadakan berbagai perlombaan, upacara tujuhbelasan, dan syukuran. Bersyukur? Ya, kita mensyukurin kalau kita tidak dijajah oleh bangsa asing, tapi tidak dari bangsa dan pemerintah sendiri.
Kemerdekaan 17 Agustus 1945 hanyalah peringatan minggatnya penjajahan bersenjata orang asing. Penjajahan kini menyerbu dengan metode yang berbeda. Bukan dengan kekerasan senjata, tapi melalui kebijakan ekonomi, penyebaran budaya, keputusan politik, dan sebagainya. Intinya adalah mempertahankan kekuasaaan dan uang!
Bukan hanya orang asing yang menjajah dengan metode tersebut, tapi pemerintah yang memegang kekuasaaan pun sering berlaku seperti itu. Dengan tidak bisa memakmurkan rakyatnya, membiarkan korupsi-kolusi-nepotisme merajalela, mandul dalam memerangi anarkisme dan vandalisme, serta tidak peduli dengan masa depan bangsa ini, sama saja dengan kompeni-kompeni dulu.
Hal yang esensial dari peringatan tujuhbelasan tiap tahunnya hanyalah terlepasnya kita dari penjajahan secara fisik. Kita patut bersyukur untuk itu. Tanpa kebebasan fisik, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Termasuk Pemilu yang akan kita laksanakan 2009 nanti.
Pada saatnya nanti, di situ kita harus berjuang untuk membebaskan diri dari penjajahan. Siapa pun yang akan kita pilih nanti, pastinya harus bisa melepas penjajahan dalam berbagai arti agar makna kemerdekaan sejati adanya.
Rabu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Comment Form under post in blogger/blogspot