Rabu

Network Marketing
Oleh: Ir. Goenardjoadi Goenawan

Tanya :
Apakah bisa membantu menjelaskan lebih detail tentang "Baik dan Buruknya" dunia Network Marketing (MLM)?

"Wandy Trisna"



Jawab:
Network Marketing atau Multi Level Marketing (MLM), terutama sejak krismon 1998, menjadi bisnis raksasa di Indonesia. Penetrasinya di kota-kota besar luar biasa, dan anggotanya sampai tahun 2004, hampir mencapai 5 juta orang. Angka yang sulit diraih oleh bisnis lain, kecuali bisnis kartu selular prabayar.

Karena besarnya anggota dan pesatnya perkembangan MLM, wajar jika menimbulkan pro kontra. Banyak orang menganggap MLM, bukan bisnis sungguhan, karena hanya mengajak orang untuk bergabung, dengan iming-iming bonus yang besar. Apalagi, kesan yang ditampilkan oleh sebagian perusahaan MLM, kurang menonjolkan produk mereka.

MLM secara garis besar dibagi dua, yaitu: Network Marketing yang berkelanjutan, artinya komisi yang dibagikan kepada anggotanya murni berasal dari keuntungan penjualan produk. Ini sebenarnya yang disebut MLM, karena mengandalkan produk dalam memperluas jaringan. Yang kedua adalah MLM yang tidak berkelanjutan, karena menggunakan dana anggota untuk dibagikan kembali kepada anggota lainnya. Seperti arisan uang. Sedangkan barang yang diperdagangkan, hanya sebagai pelengkap saja. MLM semacam ini biasa disebut sebagai money game. MLM semacam ini tidak akan berlangsung lama, dan justru merugikan citra MLM jenis pertama.

Apa efek positif MLM? Efek positifnya yaitu: Network Marketing telah banyak membentuk jiwa entrepreneurship banyak orang. Mereka tidak tergantung pada atasan. Keberhasilan murni karena usaha sendiri, bukan karena atau untuk orang lain. Seorang anggota MLM, bisa mengatur sendiri semua urusan, tanpa harus didikte oleh orang lain. Prinsip ini sebenarnya sama dengan seorang pengusaha, bebas menentukan jalan hidupnya sendiri. Hal ini juga diakui oleh Steven R. Covey pengarang buku 7 Habit of Highly Effective People. Memang framework sebagai karyawan sangat berbeda dibandingkan seorang pengusaha. Dari aspek ini, Network Marketing menjembatani keduanya.

Kedua, MLM bisa menjadi alternative income bagi sebagian karyawan terutama yang terkena PHK. Banyak yang terbantu oleh kehadiran MLM.

Ketiga, MLM tidak terlalu bersifat kapitalis, artinya pemain yang unggul tidak tergantung dari modal namun ditentukan oleh kepemimpinannya.

Terakhir, MLM membentuk jiwa pemimpin. Bagaimana suatu jaringan yang terdiri dari 100.000 orang digerakkan? Tentu memerlukan seorang pemimpin yang memiliki jiwa leadership yang tangguh.

Namun demikian, ada beberapa isu negatif yang ditiupkan kepada para pemain MLM. Sebagian besar tidak benar atau tidak sesuai fakta. Misalnya: financial freedom atau passive income (tanpa bekerja uang akan terus masuk ke kantong Anda). Atau Pasar MLM tidak akan jenuh (padahal, potensi pasar ada batasnya). E-commerce digunakan sebagai alasan. MLM lebih menguntungkan (lebih menguntungkan dibanding tidak bekerja, iya). MLM tidak merugikan (buktinya masih ada MLM yang merugikan). Bekerja lebih penting daripada sekolah (tanpa sekolah atau pendidikan, mana mungkin seseorang bisa bekerja dengan baik).

Satu hal yang sering dilupakan oleh para pemain MLM, yaitu market size. Mungkin mereka sudah terbius oleh uang hasil komisi yang besar, sehingga tidak menyadari bahwa fundamental setiap bisnis adalah market size. Misalnya, berapa total pasar minuman ringan di Indonesia? Sebut saja 5 Trilyun.

Ada satu jenis MLM yang anggotanya mencapai 500.000 orang di Indonesia, dengan omzet kira-kira mencapai Rp 2 trilyun. Tentunya pada saat itu, total market size sudah tercapai. Secara potensial, pasarnya di Indonesia sudah menjadi jenuh. Oleh karena itu, tidak mungkin tercapai apa yang disebut financial freedom ataupun passive income, kalau pasar sudah jenuh, mau kemana lagi?

Seperti tadi saya sebutkan, secara umum, MLM terbagi dua, yaitu yang omzetnya cepat sekali naik, mungkin karena komisi yang dibagikan sangat menggiurkan. Dan yang kedua, yang omzetnya bergerak agak lambat. Namun yang pasti semua bisnis akan mencapai total market size (mencapai titik jenuh).

Lalu apa bedanya bisnis tradisional dengan MLM? Pada bisnis tradisional, konsumen tidak merasa dirugikan karena sudah menikmati produk dan jasa yang dibelinya. Misalnya konsumen membeli minuman Aqua dua ribu rupiah. Titik. Konsumen tidak lagi mengharapkan apa-apa lagi. Transaksi selesai.

Tidak demikian dengan MLM, konsumen diiming-imingi komisi yang jumlahnya besar, bila mampu menjual kepada anggota berikutnya. Pada saat pasar sudah jenuh, maka sangat besar sekali jumlah anggota di level bawah yang belum menikmati komisi.

Pemberian komisi yang sangat besar kepada para anggota, menimbulkan efek negatif. Antara lain, lunturnya keyakinan seseorang terhadap pendidikan, baik formal maupun non formal. Misalnya, untuk mendapatkan komisi besar itu, seseorang tidak butuh sekolah, yang penting adalah kerja keras.